Rabu, 22 Februari 2012

PUNCAK IBADAH

Jika ibadah diibaratkan orang yang mendaki gunung, ada sebagian yang berhenti di kaki gunung, puas hanya dengan pemandangan di kerendahan kaki gunung. Sebagian lagi melanjutkan perjalanan dan berhenti di bukit, puas dengan pemandangan terbatas di perbukitan. Sebagian yang lain menempuh jalan terjal sampai ke puncak. Mereka menikmati pemandangan luas nan indah dari ketinggian puncak gunung.

Orang yang puas dengan pemandangan di kerendahan kaki gunung adalah hamba Allah yang merasa ibadah sebagai kewajiban bukan kebutuhan. Mereka merasa bahwa Allah lah yang butuh akan ibadahnya bukan dirinya. Mereka merasa cukup hanya dengan melaksanakan ibadah wajib saja. Bahkan kalau bisa mereka ingin mengurangi jumlah ibadah wajib yang telah Allah tetapkan. Sholat lima waktu sehari terasa terlalu banyak, dan sholat subuh dua rokaat terasa terlalu lama bagi mereka.

Kelompok orang yang berhenti di perbukitan adalah hamba Allah yang merasa ibadah sebagai kebutuhan. Ibadah wajib saja tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan mereka. Mereka menambahnya dengan ibadah sunnah. Sholat wajib ditambah dengan sunnah qobliyah dan ba’diyah. Puasa romadhon dilengkapi dengan sholat tarawih dan ditambah pula dengan puasa Senin dan Kamis. Tetapi hamba Allah ini tidak merasa perlu untuk menularkan kebutuhan ibadahnya kepada orang lain. Mereka puas dengan pencapaiannya sendiri. Mereka kurang peduli dengan pencapaian orang lain.

Sebagian orang yang melanjutkan ke puncak bukit adalah hamba Allah yang kuat. Mereka menempuh jalan terjal menuju puncak gunung. Tebing terjal tidak mematahkan semangatnya. Jurang yang dalam tidak menjadikannya gentar. Semak berduri tidak menjadi hambatan yang berarti. Binatang buas dihadapinya dengan gagah berani. Puncak, adalah satu-satunya fokus perasaan, pikiran dan tindakannya. Mereka adalah hamba Allah yang menjadikan ibadah bukan sekedar kebutuhan tapi kebahagiaan hidup. Mereka menikmati ibadah dan menginginkan pula orang lain merasakan nikmat ibadah yang sama. Mereka rela mengorbankan jiwa, raga dan harta benda untuk mengajak orang lain merasakan nikmat ibadah dan meraih ridho Allah di dunia dan akherat.

Read More......

ALLAH MAHA KAYA


Tiadalah kita diciptakan melainkan untuk beribadah kepada Allah, Zat yang mengharamkan kezoliman atas Diri-Nya dan menjadikan kezoliman itu haram pula atas diri kita. Zat yang menjadikan kita dari tiada menjadi ada. Dari tidak mengetahui sesuatu menjadi mengetahui banyak hal. Dari keadaan lapar menjadi kenyang. Dari keadaan telanjang menjadi berpakaian. Dari tidak memiliki sesuatu menjadi memiliki harta-benda. Dialah Allah yang melimpahkan ampunan bagi orang-orang yang bertobat. Kita tidak akan mampu mendatangkan bahaya atas-Nya dan tidak pula mampu membawakan manfaat kepada-Nya.

Kalaulah setiap kita memiliki ketaqwaan sebesar orang yang paling bertaqwa lalu dikumpulkan ketaqwaan itu sejumlah seluruh manusia dari awal sampai akhir, hal itu tidaklah menambah Kerajaan Allah sedikit pun. Kalaulah setiap kita melakukan kejahatan sebesar orang yang paling jahat lalu dikumpulkan kejahatan itu sejumlah seluruh manusia dari awal sampai akhir, hal itu tidaklah mengurangi Kerajaan Allah sedikit pun. Kalaulah setiap kita memohon kepada Allah sebesar permohonan orang yang paling besar permohonannya lalu dikumpulkan permohonannya sejumlah seluruh manusia dari awal sampai akhir, dan Allah kabulkan seluruh permohonan itu, tiada akan mengurangi kekayaan Allah sedikit pun.

Sesungguhnya seluruh hidup kita hanyalah amal perbuatan yang akan Allah perhitungkan sebagaimana mestinya untuk kita. Kemudian Allah akan menentukan pahalanya. Maka barang siapa yang memperoleh hasil yang baik, hendaklah ia memuji hanya kepada Allah, dan barang siapa yang memperoleh kejelekan janganlah mencela melainkan dirinya sendiri.

Sungguh Maha Sempurna sifat Allah SWT, Zat yang wajib kita sembah. Masihkah kita akan mencari sesembahan selain Allah? Kalaupun kita masih akan mencari sesembahan selain Allah, sungguh kita tiada akan menemukannya. Karena sesungguhnya tiada sesembahan melainkan hanyalah Allah dan sesungguhnya Muhammad itu adalah Rasulullah.

Read More......

Rabu, 16 Februari 2011

Sekolah Profesor Cilik

Sekolah Profesor Cilik adalah Sekolah Alam yang akan mengantarkan murid-muridnya menjadi profesor berakhlak karimah (mulia)
Selengkapnya klik disini

Read More......

Minggu, 01 Februari 2009

CARILAH RIZKI YANG HALAL

CARILAH RIZKI YANG HALAL
~ Ust. H. Ir. Anom Wiratnoyo, MM. bin Sutardjo ~
Kritik dan saran : 0817100099; anomwiratnoyo@yahoo.com; anomwiratnoyo.blogspot.com

Orang sekarang bilang, “Jangankan mencari yang halal mencari yang haram saja susah”. Sementara Allah SWT menyuruh makanlah dari yang halal, sebagaimana firman-Nya (QS 2:172), “Hai orang-orang yang beriman makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepada kalian”. Dan Rasulullah SAW bersabda, “Setiap daging yang tumbuh dari barang haram maka neraka itu lebih utama baginya”. Maka harus kita tancapkan sedalam-dalamnya dalam keyakinan kita bahwa pernyataan di atas adalah bisikan dan jebakan iblis la’natullah alaih. Karena Allah telah memerintahkan makanlah dari yang halal, tidak mungkin Allah mempersulit untuk mencari yang halal, dan mustahil yang halal itu tidak disediakan oleh Allah.
Tidak ada kata malas, lelah, istirahat sejenak atau bosan bagi iblis untuk menggoda manusia. Dia akan terus-menerus menggoda dengan berbagai cara. Dari depan, dari belakang, dari kanan atau kiri. Sebagaimana firman Allah SWT (QS 7:17), “Kemudian aku (iblis) akan mendatangi mereka (manusia) dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan dari mereka bersyukur”. Dari depan iblis akan datang dalam wujud dirinya sendiri. Jika gagal mereka akan datang dari belakang, dalam wujud godaan kemewahan dunia dan rizki di dalamnya. Jika gagal lagi mereka akan datang dari kanan, dalam wujud godaan manusia. Jika gagal juga mereka akan datang dari kiri, dalam wujud godaan nafsu.
Rizki adalah salah satu senjata ampuh iblis untuk menggoda manusia. Seorang yang miskin. Mengeluh setiap hari. Bahkan tidak sedetik pun dia bersyukur kepada Allah. Setiap ada orang yang bertanya padanya, siapa pun, dengan fasih keluar keluhan, “Yah, keadaan memang begini. Boro-boro mau ibadah. Untuk hidup sehari-hari saja susah”. Keluhan yang sering kali kita pun mengiyakan dan mentoleransinya.
Sementara seorang pegawai perusahaan swasta yang berpenghasilan Rp.10.000.000,- sebulan. Setiap hari mengeluh, “Yah, bagaimana lagi. Saya harus mengejar target perusahaan. Saya harus sholat subuh di jalan dan sampai di rumah setelah waktu isya”. Sholat subuhnya sendiri saja di jalan. Begitu pula dzuhur, ashar, maghrib dan isyanya tak sekali pun berjama’ah. Bahkan tidak pernah ada yang diawal waktu. Dapat kita bayangkan bagaimana sibuk, lahir dan batinnya, pegawai eksekutif yang gajinya di atas Rp 10.000.000,- bahkan ratusan juta sebulan. Kapan mereka sholat berjama’ah, sholat sunnah, tadarus Al-Qur’an atau do’a dan wiridnya?
Dua kisah di atas adalah contoh godaan rizki yang ditiupkan oleh iblis. Sehingga mereka meninggalkan ibadah. Dan cukuplah haramnya pekerjaan itu jika meninggalkan ibadah karenanya. Kisah di atas menunjukkan pula bahwa meninggalkan ibadah itu bukan karena kecil atau besarnya pekerjaan dan penghasilan. Tetapi betul-betul kembali pada pribadi dan perilaku orangnya. Jika kita perhatikan dengan cermat sekeliling kita, ada orang miskin papa yang ibadah ada juga yang tidak. Ada orang kaya luar biasa yang rajin ibadah ada pula yang meninggalkannya. Sementara si miskin berangan-angan, “Aduh kalaulah aku kaya aku akan ibadah”. Dan yang kaya raya pun berangan-angan, “Nanti kalau aku senggang atau pensiun aku akan ibadah”.
Ada kisah seorang yang rajin ibadah dan sukses usahanya. Pekerjaanya dimulai dengan menyuplai alat tulis kantor ke pemerintah kota. Karena dipercaya berkembanglah usahanya bukan hanya menyuplai ATK saja tapi hampir seluruh kebutuhan pemerintah kota. Dalam satu pengajian dia mendengar penjelasan tentang masalah suap, bahwa yang menyuap dan yang disuap kedua-duanya di neraka. Rupanya pengusaha ini tidak dapat menghindar dari masalah suap dalam usahanya. Terjadilah pergolakan hebat di hatinya. Akhirnya dia memutuskan untuk berhenti dari usahanya sama sekali.
Sementara itu di rumah, istrinya berjualan rujak dan gado-gado kecil-kecilan. Niatnya ingin menunjukkan kepada tiga anak perempuannya untuk hidup mandiri. Bapak pengusaha kita menganggur di rumah hampir setahun. Tiba-tiba terbersit di pikirannya, “Mengapa tidak aku kembangkan usaha istriku saja. Allah pasti menolong hambanya yang berikhtiar mencari usaha yang halal”. Maka dengan sisa tabungannya dirombaklah rumahnya untuk mengembangkan usaha istrinya. Singkat cerita sekarang usahanya sudah maju. Bukan hanya rujak dan gado-gado lagi, tetapi rumah makan yang cukup besar. Dia pun telah membeli tanah di sebelahnya. Sebagian untuk toko yang disewakan dan sebagian untuk usaha barber-shop.
Masih banyak lagi kisah nyata orang yang berikhtiar mencari usaha yang halal. Ternyata Allah SWT membukakan jalannya, menolong dan mengabulkannya. Allah SWT berfirman (QS 65:24-25), “Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah pasti Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada terduga-duga”.

Read More......

TIGA GOLONGAN PENDAKI

TIGA GOLONGAN PENDAKI
~ Anom Wiratnoyo bin Sutardjo – AM22 ~
Kritik dan Saran : HP 0817100099; e-mail anomwiratnoyo@yahoo.com

Allah SWT berfirman (QS 41:30-32) yang artinya :
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan Kami ialah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqomah), maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: ‘Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu’. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Tersebutlah serombongan pendaki gunung pagi-pagi buta telah berangkat ke gunung Gede. Semua bertekad, “Aku harus sampai ke puncaknya”. Setelah sampai di kaki gunung sebagian menyerah dan berhenti disitu. Ternyata semangat mereka hanyalah hiasan di bibir saja. Mereka tidak melakukan pendakian walau sejengkal pun. Sebagian lagi mendaki tapi berhenti di tengah jalan, memasang tenda dan tidur di tengah perbukitan yang penuh pohon besar.
Hanya sebagian kecil pendaki sampai ke puncak. Mereka dipenuhi rasa bangga, puas dan penuh syukur. Tebing terjal tidak mematahkan semangatnya. Jurang yang dalam tidak menjadikannya gentar. Semak berduri tidak menjadi hambatan yang berarti. Binatang buas dihadapinya dengan gagah berani. Puncak, adalah satu-satunya fokus perasaan, pikiran dan tindakannya. Itulah amal hamba ahli ibadah yang hatinya mampu menembus puncak hikmah dan ni’mat di balik beratnya amal Romadlon. Malam-malam Romadlon dilaluinya dengan tarawih, sholat sunnah, tadarus dan tahajud dengan penuh khusyu’. Siang hari dilalui dengan puasa, amal sholeh, sedekah dan sebagainya dengan tetap menjaga adab-adabnya. Sampailah ia pada puncak Romadlon, dan jika beruntung mendapat kemurahan Zat Yang Maha Pemurah akan mencapai Lailatul Qodar. Amin ya Allah ya Robbal ‘Alamin.
Adapun kelompok pertama yang menyerah sebelum mendaki, bagaimana mungkin ia dapat meni’mati indahnya puncak gunung. Itulah hamba yang lemah. Menjelang Ramadhan mereka sibuk dengan ziarah kubur, saling mengucapkan selamat puasa dan meminta maaf melalui SMS-an, atau membersihkan karpet masjid/mushola. Ketika masuk Romadlon tidak melakukan amalan sunnah dan kebaikan apa pun. Bahkan puasa pun tidak.
Demikian pula kelompok kedua yang berhenti di tengah jalan, hanya puas dengan pemandangan dari bukit yang rendah. Ditemani oleh pohon-pohon besar yang menyeramkan. Itulah hamba yang melaksanakan sholat tarawih di awal Romadlon dan meninggalkannya di tengah Romadlon. Tadarus di awalnya dan berhenti sebelum khatam. Tidak ada amal sunnah dan kebaikan yang bertambah di bulan Ramadhan. Bahkan yang wajib pun hampir-hampir mereka tinggalkan. Jika kuat pun hanyalah karena malu, masa ngaku muslim tapi tidak puasa, bukan karena Allah.
Istiqomah adalah kunci ibadah. Istiqomah adalah rahmat Allah SWT. Istiqomah adalah melakukan sesuatu terus-menerus dan berulang-ulang. Dalam beribadah sering kali kita tidak tahu ujungnya. Bahkan apa yang sedang kita lakukan sering tidak menyadarinya. Kita hanya tahu bahwa yang kita lakukan ini adalah perintah Allah. Lakukanlah terus-menerus secara istiqomah. Rahmat Allah SWT akan mengantarkannya menuju buah dan hasil yang memuaskan, yaitu kebaikan di dunia dan kebaikan di akherat. Bukankah pendaki gunung itu pun tidak tahu apakah akan sampai ke puncak. Yang mereka tahu hanyalah terus-menerus mengayunkan langkahnya. Pantang menyerah, apa pun rintangannya. Akhirnya mereka sampai ke puncak.
Ramadhan tahun ini, wahai saudaraku Jam’an Marhuman, jangan menyerah, jangan berhenti di tengah jalan. Istiqomahlah tarawih, tadarus dan amalan sunnah lainnya. Teruslah memohon, Allah akan melimpahkan rahmat-Nya kepada kita. Teruslah istighfar, Allah akan mengampuni dosa-dosa kita. Teruslah ibadah. Rasakanlah detik demi detik sholat tarawih, seolah kita berada dalam antrian di padang Mahsyar. Teruslah tadarus, jadikanlah hati kita dekat dan Allah sedang menjawab kegundahan dan pertanyaan hidup kita. Semoga Allah membebaskan kita dari siksa api neraka. Dan semoga Allah SWT melimpahi kita ni’mat lailatul-qodr. Amin ya Allah ya Robbal alamin.

Read More......

Jumat, 26 Oktober 2007

PENYAKIT YANG MENGHAMBAT PERJALANAN

Renungan Hari Ke-13

PENYAKIT YANG MENGHAMBAT PERJALANAN
KELUARGA SAKINAH, MAWADDAH WA ROHMAH


Allah SWT berfirman (QS 7:172) yang artinya :
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman) :’Bukankah Aku ini Tuhanmu?’. Mereka menjawab :’Betul, kami menjadi saksi’. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan :’Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan) ”

Alkisah seorang Raja Diraja di satu negri yang super makmur. Kekuasaannya meliputi seluruh alam jagad raya. Bangsa manusia, jin dan binatang semua tunduk padanya. Suatu hari dikumpulkanlah bangsa manusia di satu tanah lapang yang super luas. Mereka diminta untuk pergi ke wilayah yang belum pernah mereka rambah. “Pergilah ke wilayah baru itu. Kalian akan diberi bekal yang sangat cukup. Hidup, berketurunan dan kembangkanlah diri kalian. Setiap berhasil mengembangkan diri, kalian harus mengirim sebagian hasilnya kepadaku. Aku tidak butuh hasil kalian. Tapi pengakuan kalian kepadaku adalah cara penilaianku kepada kalian. Barang siapa yang tetap setia akan aku beri hadiah yang belum pernah kalian rasakan ni’matnya. Yang tidak setia kepadaku akan aku masukkan ke ruang penyiksaan. Kalian jangan menipuku, karena aku mengutus mata-mata. Waktu kalian adalah 70 tahun. Sekarang pergilah kalian”, begitulah pidato pelepasan dari sang Raja Diraja. Tanpa dapat membantah bertebaranlah bangsa manusia itu ke wilayah yang telah ditetapkan. Maka berkembanglah mereka sesuai kemampuan yang mereka miliki.
Tersebutlah seorang bernama Hambu. Orang yang kuat namun sederhana. Dia berusaha dengan seluruh kekuatannya tapi hasil tidak seberapa. Setiap mendapat hasil selalu dikirim sebagiannya kepada Raja Diraja. Terkenallah nama Hambu sebagai orang yang sederhana dan setia. Suatu saat dia menikah dan berumah tangga. Lahirlah anak pertamanya dan diberi nama Ama. Hidupnya masih sederhana dan setia. Sampailah ia dikaruniai anak kedua yang bernama Harlah. Anak yang membawa keberuntungan. Karena mendadak harta Hambu berlimpah. Usahanya merambah seantero wilayah. Mulailah Hambu lupa. Setiap masanya berkirim kepada Raja Diraja, dia selalu berkilah, “Nantilah saja”. Sementara pundi-pundinya berjajar. Mewakili dirinya yang mulai pongah. Bangga pada dirinya. Lupa pada sang Raja Diraja.
Sayangnya pada Harlah, anak pembawa untung, tak terbilang. Diabaikanlah anak pertamanya, si Ama. Lalu lahir pula anak ketiga, bernama Anis. Pundi-pundinya makin tumpah ruah. Janji-janjinya untuk berkirim kepada Raja Diraja sirnalah sudah. Si Ama makin telantar. “Anak sial”, kutuk Hambu. Apa saja yang diminta Harlah dan Anis seketika tersedia. Sementara Ama tak dilihat sebelah mata.
Masa 70 tahun sampailah sudah. Betapa darah Hambu terkesiap. Dia merasa belum siap. Sementara tentara penjemput telah bergerak. Siap membawa Hambu walau dengan paksa. Hambu menggapai Harlah, anak kesayangannya, untuk ikut serta. “Ayah aku tak bisa”, begitu jawab Harlah. Ketika menengok ke Anis. Jawabnya pun sama, “Ayah aku tak bisa ikut serta”. Perlahan matanya beralih kepada Ama. Ternyata Ama telah berkemas. Siap disamping Hambu untuk ikur serta. Berangkatlah tentara dengan membawa Hambu beserta Ama di sampingnya.
Sesampai di depan Raja Diraja, Hambu tak mampu bercerita. Mulutnya terkunci lidahnya terbelenggu. Ama di sampingnya dengan fasih berkisah tentang ayahnya. Tak ada satu detak yang terlewat. Ama ternyata adalah ‘amal’ yang dikirim Raja Diraja. Mendampingi Hambu untuk melihat kesetiaannya. Harlah adalah ‘harta’ amanah dari Raja. Hanya diam tak mampu bercerita. Anis juga titipan Sang Raja, yaitu anak dan istri. Apalah yang mampu dikatakan mereka manakala Hambu mengingkari sang Raja Diraja. Akhir kisah masuklah Hambu ke ruang penyiksaan. Karena janji yang diingkarinya.
Dari kisah di atas kita dapat mengambil hikmah darinya. Bahwa apa yang menyebabkan Hambu berakhir di ruang siksa adalah kepongahan. Kesombongan dan kebanggaan pada diri sendiri. Lupa pada perjanjian awal. Bahwa ia telah mengikat janji setia kepada Raja Diraja. Bahwa ia harus beramal-soleh sebagai ungkapan rasa syukur. Bukan beramal-tholeh (jelek) karena akan kufur. Orang yang sombong ini adalah sebagaimana firman Allah SWT (QS 74:23) yang artinya, “Kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri”. Sifat sombong ini adalah sifat iblis (QS 2:34) dan Fir’aun (QS 28:39). Inilah penyakit manusia dan penyakit keluarga yang utama. Ulama mengatakan bahwa penyebab tergelincirnya manusia ada dua, yaitu : sombong dan bodoh. Jika penyebabnya kebodohan, masih bisa diperbaiki. Yaitu dengan diberi nasehat dan informasi yang benar. Maka dia akan mengerti dan memperbaiki diri. Tetapi kesombongan adalah penyakit yang susah diobati. Karena orang yang sombong bukan tidak tahu atau tidak berilmu. Tetapi dia merasa lebih kaya. Lebih berkuasa. Lebih terhormat. Lebih baik. Lebih soleh. Lebih suci. Lebih segala-galanya. Sehingga nasehat akan mental jika disampaikan pada orang sombong.
Penyakit kedua adalah ‘tidak mau bersyukur”. Allah SWT berfirman (QS 7:10) yang artinya, “Sesungguhnya Kami telah menempatkan kalian di muka bumi dan Kami jadikan bagi kalian di muka bumi itu sumber penghidupan. Amat sedikitlah kalian bersyukur”. Orang yang tidak bersyukur berarti tidak mau menerima bahwa apa pun yang dimiliki, yang melekat, yang dipergunakan, yang menjadi, yang dini’mati dirinya semuanya adalah pemberian Allah SWT. Jika dia tidak mengerti dan tidak menerima bahwa semua ini dari Allah SWT bagaimana mungkin dia akan beribadah kepada Allah?
Penyakit ketiga adalah ‘berkeluh kesah’. Allah SWT berfirman (QS 70:20) yang artinya, “Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah”. Allah SWT memerintahkan jika terkena musibah harus bersabar sebagaimana firman-Nya (QS 11:11) yang artinya, “Kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana) dan mengerjakan amal soleh, mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar”. Karena orang yang sabar itu mengerti dan menerima bahwa bencana dan kesusahan itu datangnya dari Allah SWT. Maka penerimaannya itu menjadi ibadah baginya. Orang yang berkeluh-kesah berarti tidak mengerti dan tidak menerima bahwa bencana dan kesusahan itu dari Allah SWT. Maka penolakannya itu menjadi dosa baginya.
Penyakit keempat adalah ‘melampaui batas’. Allah SWT berfirman (QS 96:6-7) yang artinya, “Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas. Karena dia melihat dirinya serba cukup”. Orang atau keluarga yang melampaui batas ini adalah keluarga yang tidak mau meningkatkan ibadahnya. Untuk mengejar karir maka seorang Ayah, bahkan Ibu, bersedia mengeluarkan biaya, tenaga dan waktu yang sangat besar untuk pendidikannya. Bila mampu dia akan menyelesaikan pendidikan sampai S3. Bahkan ditambah dengan kursus dan pelatihan. Kalau perlu di luar negri. Sementara untuk pendidikan ilmu aqidah, fiqih, akhlaq dan ilmu membaca Al-Qur’an dia enggan mengeluarkannya. Sehingga tidak jarang kita jumpai seorang muslim yang berpendidikan amat sangat tinggi, tetapi tidak lancar atau bahkan tidak bisa membaca Al-Qur’an. Dalam hal ini bukan dimaksudkan melarang untuk mencapai S3 bahkan lebih. Tetapi pencapaian S3 nya itu harus diimbangi dengan pencapaian ibadah, misalkan kelancaran dalam membaca dan mengartikan Al-Qur’an. Jika perlu berusaha pula untuk hafal Al-Qur’an. Mengapa tidak? Bukan karena tidak mampu. Tetapi dia merasa bahwa untuk urusan agamanya dia sudah merasa cukup dengan ilmu dan amal yang ada.
Penyakit yang disebutkan di atas adalah penyakit pokok yang melanda keluarga sakinah, mawaddah wa rohmah. Dampaknya adalah menurunnya perhatian generasi muda terhadap disiplin ibadah kepada Allah SWT. Anak muda sekarang umumnya berani meninggalkan sholat wajib tanpa ada perasaan bersalah. Ternyata kasus ini banyak terjadi pada keluarga yang orang tuanya hanya melaksanakan sholat wajib saja tanpa sholat sunnah ba’diyah dan qobliyah. Kasus lain, banyak anak keluarga muslim yang tidak bisa membaca Al-Qur’an. Hal ini terjadi pada keluarga yang orang tuanya tidak lancar membaca Al-Qur’an. Penurunan kualitas ibadah akan terus terjadi dari generasi ke generasi jika perhatian orang tua pada ilmu, amal serta disiplin ibadah tidak memadai. Jika penyakit ini tidak segera diobati, maka dalam dua generasi mendatang akan semakin banyak keluarga muslim yang hanya menyandang sebutan muslim saja, tetapi asing terhadap syariatnya. Na’udzubillah.

MUTIARA HIKMAH :
1. Kriteria utama keluarga sakinah, mawaddah wa rohmah adalah kemampuannya mengikatkan diri dalam ikatan aqidah kepada Allah SWT dalam seluruh kehidupannya
2. Dengan ikatan aqidah ini maka manusia akan pandai bersyukur, bersabar dan tidak melampaui batas.
3. Perlu upaya yang sungguh-sungguh untuk mengobati empat penyakit keluarga muslim tersebut sehingga dapat tercapai keluarga sakinah, mawaddah wa rohmah sebenar-benarnya

Read More......

Rabu, 24 Oktober 2007

LANGKAH-LANGKAH MENUJU MAGHFIROH ALLAH SWT

Renungan Hari Ke-12

LANGKAH-LANGKAH MENUJU MAGHFIROH ALLAH SWT

Allah SWT berfirman yang artinya :
“Katakanlah : ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rohmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS 39:53)
“Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal”. (QS 3:135-136)

Rasulullah SAW bersabda :
“Ikutilah perbuatan kejahatan dengan perbuatan kebaikan maka perbuatan baik ini akan menghapus dosa kejahatan. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlaq yang baik”

Di pengajian sebelum tarawih malam ke-12 Ustadz Sobar bercerita, “Ada seorang Bapak mengajak anak perempuannya, yang berumur 6 tahun, ziarah ke makam neneknya. Saat itu menjelang Romadhon. Setelah membersihkan sekitar makam si Bapak mengajak anaknya berdo’a. Tiba-tiba anaknya bertanya, ‘Bapak, Bapak. Nenek waktu meninggal umurnya 37 tahun ya?’. ‘Iya, kok Ade tahu?’ kata si Bapak. ‘Itu di nisan ada tulisan lahir tahun 1930 – meninggal tahun 1967’, jawab anaknya sambil jarinya mengusap nisan nenek. ‘Alhamdulillah, anak pinter. Yo, kita berdo’a untuk nenek’, kata si Bapak lagi. ‘Bapak, Bapak. Nenek di dalam kuburan sudah 40 tahun ya?’, tanya anaknya lagi. ‘Ade tahu dari mana?’, tanya si Bapak penasaran. ‘Kan sekarang tahun 2007, dan nenek meninggal tahun 1967’, jawab anaknya. Bapaknya tidak bisa menahan kagumnya, ‘Aduh, anak pinter. Sekarang kita berdo’a, yok’.
Maka berdo’alah si Bapak memohon agar dosa-dosa nenek diampuni oleh Allah dan amalnya diterima. Anaknya mengamini sambil menengadahkan tangannya yang mungil. Tiba-tiba anaknya berkata, ‘Kalau nenek berdosa berarti 40 tahun nenek disiksa di dalam kubur’. Sambil terkejut si Bapak langsung memotong, ‘De, nenek orang yang solehah. Insya Allah, mendapat kebahagiaan di alam kubur’. Anaknya langsung diam dan kembali berkata, ‘Amin ... Amin ... Amin”
Pak Bakri menyimak dengan baik pesan yang disampaikan oleh Ustadz Sobar. Dia langsung menerawang. Umurnya sekarang 48 tahun. Kalau dia meninggal 70 tahun, berarti sisa umurnya tinggal 22 tahun. Itulah waktunya di dunia. Lalu dia akan mati. Berapa lama dia di alam kubur? Kalau kiamat 100 tahun lagi, maka di dalam kuburnya 100 tahun. Bagaimana kalau 500 tahun lagi kiamatnya? Dia akan di dalam kubur selama 500. Kalau 1000 tahun lagi? Kalau 2000 tahun lagi? “Ya Allah, belum di akhirat, masih di dalam kubur yang wujudnya bisa aku lihat di dunia ini, aku sudah tidak bisa menghitung berapa lama aku akan tinggal di dalamnya. Sedang hidup di dunia ini aku masih bisa menghitung umurku. Dan bagaimana pula nasibku di dalam kubur nanti?”, Pak Bakri merenung dan menundukkan wajahnya. Air mata menetes di pipinya.
Manusia sering tidak sadar. Merasa bahwa dia akan hidup di dunia selamanya. Padahal dia faham betul sangat sedikit di dunia ini orang yang berumur lebih dari 80 tahun. Itu pun sudah sangat repot. Sedikit lebih banyak yang berumur antara 70 – 80 tahun. Kebanyakan antara 60 – 70 tahun. Berapa lama lagi sisa umur kita? Kalaulah sisa umur kita masih 60 tahun lagi. Setelah itu? Kita akan masuk lubang kubur. Selesaikah urusannya? Tidak! Kita akan dihidupkan lagi. Merasakan rasa derita jika disiksa. Dan merasakan rasa bahagia jika diberi pahala. Akankah kita mengatakan, “Ah, itu mah urusan nanti saja di dalam kubur. Yang penting kan sekarang”. Tidak ada yang dapat melarang kita untuk mengatakannya. Tetapi siapkah kita menghadapi segala konsekuensinya di dalam kubur? Konsekuensi yang kita dipaksa dan harus merasakannya. Sebagaimana kita juga dipaksa dan harus masuk ke dalam kubur. Seberapa kuatnya pun kita berusaha untuk tidak masuk ke dalamnya.
Sungguh, orang yang memahami keadaan di dalam kubur dan mempersiapkan diri untuk tinggal di dalamnya adalah orang yang mendapat rohmat Allah SWT. Sebaliknya orang yang meremehkan keadaan di dalam kubur, dan karenanya meremehkan pula persiapan untuk menghadapinya adalah orang yang tertutup hatinya dari rohmat Allah SWT. Apa yang menutup hatinya itu? Apa yang menghalangi cahaya rohmat Allah sampai ke dalam hatinya? Tidak lain adalah kabut dosa yang menggumpal dan membentuk dinding penyekat di dalam hatinya. Sungguh beruntung orang yang dapat membersihkan kabut penyekat itu dari dalam hatinya. Sungguh merugi orang yang membiarkannya menjadi semakin pekat. Allah SWT berfirman (QS 91:9-10) yang artinya, “Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwanya. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”.
Mari kita cermati dan perhatikan gerak-gerik hati kita. Jika, saat ini, kita sudah merasa bahwa semua perbuatan kita akan berakibat di alam kubur. Maka itu adalah satu langkah awal yang bagus untuk bertaubat mensucikan jiwa dari kabut penyekat sepekat apa pun. Langkah kedua, kita memohon pertolongan Allah SWT agar mengetahui perbuatan mana yang telah mendatangkan kabut tebal itu di hati kita. Ketika kita berpaling kepada Allah, mohon pertolongan-Nya, sebenarnya kita sedang menghadapkan hati kita ke arah sumber cahaya rohmat-Nya. Buahnya, Allah SWT akan menolong kita untuk mengetahui dan menyadari semua perbuatan yang lalu, yang menyebabkan kabut penyekat muncul di dalam hati kita bahkan mempertebalnya.
Langkah ketiga, bayangkan dan nyatakan dengan tegas kesalahan-kesalahan dan dosa-dosa kita itu. Mulai dari yang paling dulu sampai yang terakhir. Mulailah dari yang paling besar akhiri dengan yang paling kecil. Mulailah dengan dosa kita kepada Allah, seperti kesalahan dalam masalah tauhid, lalai dalam sholat, puasa, zakat dan sebagainya. Lalu dosa dzolim pada diri sendiri seperti minum minuman keras, berjudi, tidak lancar tadarus Al-Qur’an dan sebagainya. Dan dosa kepada orang lain. Kepada Ibu, kepada Bapak, kepada saudara kandung, kepada kerabat, kepada tetangga, kepada teman kantor dan seterusnya. Satu persatu bayangkan dan nyatakanlah dengan tegas di malam hari yang tiada seorang pun yang tahu kecuali diri kita dan Allah SWT. Mohonlah ampunan Allah, karena tiada lagi yang memberikan ampunan melainkan Allah SWT.
Langkah keempat. Malam ini juga, saat ini juga, bertekadlah, “Ya Allah, aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku tidak akan mengulanginya lagi”. Kita bertekad, kita berazam, tidak akan mengulangi perbuatan dosa itu sama sekali. Kita tobat. Kita minta ampun. Kita yang lemah ini tidak akan tahan menerima siksa kubur. Siksa Allah terlalu berat buat kita. Kita terlalu lemah untuk menanggung siksa Allah SWT. Kita tidak akan mengulanginya. Kita tidak akan kembali atau melihat tempat itu lagi. Kita tidak mau bergaul dengan orang yang menyebabkan kita melakukannya. Kita membenci semua hal yang dapat mendorong perbuatan itu lagi. Tobat ya Allah. Ampun ya Allah.
Dengan langkah keempat ini, insya Allah, dosa kita kepada Allah dan dosa dzolim atas diri sendiri diampuni, dihapuskan dan dihilangkan sama sekali bekas-bekasnya dalam diri kita. Amin. Yang tersisa adalah dosa kita kepada orang lain, terutama kepada Ibu dan Ayah kita. Dosa yang bisa diampuni hanya jika kita meminta maafnya, meminta ridhonya dan meminta keikhlasannya. Dengan jawaban pernyataan yang tegas bahwa beliau telah memaafkan, telah ridho dan telah ikhlas kepada kita. Jika tidak bisa, maka lakukanlah perbuatan kebaikan yang lebih besar atau sama besarnya dengan dosa yang kita perbuat. Banyak-banyaklah sedekah. Perbanyaklah ibadah sunnah. Seringlah menolong dan meringankan beban orang lain. Bekerjalah dengan sempurna. Kita niatkan pahala ganjarannya untuk Ibu, untuk Ayah, dan untuk siapa pun yang kita ambil haknya atau kita sakiti hatinya. Mudah-mudahan Allah SWT berkenan menerimanya. Amin Ya Allah Ya Robbal ‘Alamin.

MUTIARA HIKMAH :
1. Semua perbuatan kita akan berakibat di alam kubur dan di akhirat adalah haq (benar, nyata)
2. Menerima derita di dunia kita sudah tidak tahan. Derita siksa di alam kubur dan di akhirat amat sangat beratnya. Diri kita yang lemah tidak akan mampu menanggungnya
3. Segeralah bertaubat memohon maghfiroh Allah dan memohon rohmat-Nya
4. Segeralah melakukan langkah-langkah : a. Sadarilah perbuatan dosa kita berakibat buruk di dunia, di alam kubur dan di akhirat; b. Menyadari dan menyesali semua kesalahan dan perbuatan dosa kita; c. Menyatakan seluruh kesalahan dan dosa itu di hadapan Allah SWT dan memohon ampunan-Nya; d. Bertekadlah untuk tidak mengulangi lagi perbuatan itu sampai mati; e. Meminta maaf dan ridho jika dosa kita menyangkut dengan orang lain, jika tidak bisa lakukan perbuatan baik sebanyak-banyaknya pahalanya untuk orang tersebut.

Read More......

Minggu, 21 Oktober 2007

Jika Ingin Sukses Bersegeralah Menuju Maghrifoh Allah SWT

Renungan Hari Ke-11

JIKA INGIN SUKSES BERSEGERALAH
MENUJU MAGHFIROH ALLAH SWT
~ Ust. H. Ir. Anom Wiratnoyo, MM. bin Sutardjo ~

Allah SWT berfirman (QS 3:133) yang artinya :
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa”

Rasulullah SAW bersabda yang artinya :
“Hai manusia bertobatlah kalian kepada Allah dan mohonlah ampun kepada-Nya, sesungguhnya saya bertobat seratus kali setiap hari”

Pernahkah anda naik mobil? Saya yakin pernah. Sebagian bisa menyupir sendiri, sebagian hanya ikut saja. Pernahkah mengalami ketika sudah siap berangkat, transmisi sudah masuk gigi satu, gas pun diinjak, ternyata rem tangan belum dilepas? Bagaimana rasanya? Orang yang perasaannya sensitif akan terkejut, berteriak dan mungkin menggigit bibirnya. Pemilik mobil yang mengerti mesin dan mekanisme mobil akan tersentak dan terbayang kerusakan beberapa komponen. Kalau dia sendiri yang menyupir, dia hanya bisa menyesali berkepanjangan. Jika supir yang melakukannya, bisa jadi dampratan panjang yang keluar. Ada lagi pemilik yang terkejut sebentar, kemudian tenang lagi. Saya yakin pemilik ini tidak mengerti mekanisme kerja mobil. Atau mungkin dia terlalu kaya hanya untuk mengurusi kerusakan pada rem. Ada pula supir yang walaupun mengerti mekanisme mobil dia santai saja. Supir ini pasti sedang sendiri, dia pikir ini bukan mobilnya dan tidak ada pemiliknya yang melihat.
Gas berarti laju kecepatan ibadah kita menuju ridho Allah SWT. Rem tangan ibarat dosa yang menghambat laju ibadah. Bagaimana mungkin bisa berangkat ibadah, apalagi melaju dengan kencang, jika dosa masih melekat dan belum bertobat kepada Allah? Jadi dosa menghalangi seseorang untuk melaksanakan ibadah. Al-Imam Al-Ghozali dalam Kitab Minhajul Abidin menjelaskan bahwa dosa menghalangi ibadah pada dua tempat, yaitu : taufiq - hidayah dan diqobulnya ibadah. Taufiq dan hidayah dibutuhkan oleh manusia untuk mengerti bahwa dia harus beribadah kepada Allah, kemudian mau beribadah, mengerti jalan-jalannya, mau mengambil jalan yang terbaik, dan sangat berharap agar ibadahnya diterima. Karena setelah beribadah belum tentu diterima oleh Allah. Dosa yang masih melekat dan belum ditaubati akan menutup jalan diterimanya ibadah itu.
Malam ini malam kesebelas. Pak Bakri menyimak dengan baik pengajian Ustadz Sobar yang disampaikan sebelum tarawih. “Alhamdulillah, dengan izin Allah SWT kita memasuki puluhan kedua Romadhon, yaitu puluhan maghfiroh Allah SWT. Allah SWT meluaskan maghfiroh-Nya seluas-luasnya. Barang siapa bertaubat dan memohon ampun kepada Allah pasti diterima taubatnya. Oleh karena itu bersegeralah menuju maghfiroh Allah dan menuju surganya yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa”.
Tak terasa bayangan pikiran Pak Bakri sampai pada peristiwa sholat yang sering ditundanya sambil tidak berjama’ah. Satu dua orang teman guru mengajaknya untuk sholat dzuhur berjama’ah di masjid sekolah tapi dia lebih memilih duduk di kantor sambil ngobrol atau sekedar meluruskan kaki. “Ya Allah, mengapa aku begitu. Sepertinya ada hawa yang menahanku untuk tidak sholat berjama’ah”. Pak Bakri tidak sadar bahwa ada kabut dosa yang menghalanginya. Dosa ‘emosional dan ringan tangan’ di rumah. Kabut dosa ini mengalir masuk ke dalam hatinya. Menyekat cahaya niat yang memancar untuk menyentuh tombol energi sholat. Jika beruntung cahaya niat ini cukup kuat menembus kabut penyekat. Masih cukup lurus untuk sampai ke tombol pengaktif energi sholat. Tentu dengan intensitas cahaya tidak sebesar jika tidak ada kabut penyekat. Jika cukup kuat untuk mengaktifkannya, maka Pak Bakri akan sholat dengan ogah-ogahan. Jika tidak cukup kuat maka dia akan menunda sholatnya.
Apakah Pak Bakri tidak mendapat hidayah dari Allah SWT untuk sholat dzuhur berjama’ah pada awal waktu? Dalam satu pengajian Pak Bakri pernah mendengar Ustadznya menyampaikan hadits Rasulullah SAW (HR Muslim) yang artinya, “Seandainya kalian melaksanakan sholat di rumah sebagai kebiasaan orang yang tidak suka berjama’ah, niscaya kalian telah meninggalkan sunnah Nabi, pasti kalian sesat. Aku benar-benar melihat di antara kita tidak ada yang meninggalkan sholat berjama’ah kecuali orang-orang munafik yang benar-benar munafik. Sungguh pernah terjadi seorang laki-laki diantar ke masjid, ia terhuyung-huyung di antara dua orang, sampai ia diberdirikan dalam shaf”. Sampainya hadits ini kepada Pak Bakri adalah wujud cahaya hidayah Allah SWT. Hidayah Allah SWT senantiasa sampai kepada hambanya dalam wujud Al-Qur’an, Al-Hadits dan tanda-tanda kebesaran Allah lainnya. Jika kemudian Pak Bakri tetap tidak melaksanakan perintah dalam hadits itu, maka yakinlah ada kabut dosa yang membentuk sekat penghalang antara cahaya hidayah dengan hatinya. Allah SWT berfirman (QS 4:79) yang artinya, “Apa saja bentuk bencana yang menimpamu, maka itu adalah dari kesalahanmu sendiri”. Juga tidak bisa menimpakan kesalahan kepada setan atau siapa pun, sebagaimana firman Allah SWT (QS 14:22) bahwa syaitan berkata yang artinya, “Maka janganlah engkau menyalahkan kepadaku, tetapi salahkanlah dirimu sendiri”.
Akhirnya Pak Bakri melaksanakan sholat dzuhur pukul 13.00. Ketika sholat Pak Bakri berusaha untuk khusyu’. Cahaya khusyu’ yang aktif memancar lurus siap menyentuh tombol energi penghubung ibadah sholat dengan niat akhiratnya. Tiba-tiba merambat masuk kabut “makanan haram”. Membentuk sekat penghambat sampainya cahaya khusyu’ ke tombol energi penghubung di dalam hatinya. Cahaya khusyu’ masih mampu menembusnya. Tapi sinarnya sudah tidak sempurna lagi. Kadang-kadang sampai kadang-kadang tidak. Ketika cahaya ini sampai dia khusyu’. Ketika tidak sampai pikirannya pun menjadi liar. Bayangan-bayangan pengalaman yang tidak layak tiba-tiba muncul di tengah sholatnya. Semakin berusaha dihilangkan semakin banyak yang datang. Silih berganti tak terkendali.
Di suatu pertemuan di kampungnya Pak Bakri mendengar obrolan antar tetangga, “Heran, setiap sholat dari awal silih berganti bayang-bayang peristiwa dalam pikiranku. Mulai dari perjalanan di tol, loncat ke si fulan yang tertawa terbahak-bahak, sapu yang tergeletak di dapur, hutang yang belum dibayar, terus dan terus sampai akhir sholat. Bagaimana ya?”. Tetangganya yang lain dengan tertawa menjawab, “Ah biasa, aku juga begitu. Setiap aku lupa menyimpan sesuatu, sewaktu sholat langsung terbayang lagi tempat aku menyimpannya tadi. Ha – ha – ha”. Pembicaraan seperti ini menjadi topik yang sangat biasa di kalangan kebanyakan umat Islam. Bahkan di seluruh dunia. Karena sangat biasa maka tertanamlah dalam pola pikirnya bahwa keadaan sholat seperti itu adalah sesuatu yang wajar. Tidak pernah terlintas sedikit pun ada orang yang mampu khusyu’ sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah SWT (QS 23:2). Jika pun ada dianggapnya mitos para wali dahulu, yang tidaklah mungkin dicapai olehnya. Sesungguhnyalah yang menghalanginya untuk khusyu’ adalah dosa yang masih melekat yang membantuk kabut di hatinya.
Kabut dosa menghalangi sampainya taufiq-hidayah ke dalam diri seseorang. Taufiq-hidayah senantiasa memancar dari Allah Ar-Rohman Ar-Rohim. Memancar bersama rohmat lain yang bersifat universal (rohmatan lil ‘alamin). Kabut dosa “musyrik” membentuk sekat hitam yang tebal dan kuat yang mencegah seluruh cahaya taufiq-hidayah. Pemilik kabut dosa ini akan menjadi kufur. Na’udzubillah. Dia tidak mengerti bahwa harus beribadah kepada Allah SWT. Dia berkata, “Saya beribadah dan punya tuhan juga. Tapi namanya bukan Allah SWT. Dan apa bedanya? Yang penting hati dan keyakinan saya mengatakan begitu. Tuhan inilah yang menciptakan saya dan harus saya ibadahi”. Orang seperti ini termasuk kafir (QS 23:117) dan akan mendapat adzab Allah (QS 26:213). Karena Hidayah Allah SWT dalam bentuk Al-Qur’an, Al-Hadits dan ayat-ayat Allah lainnya terpampang jelas di hadapannya, tapi dia tidak mau memandangnya.
Pak Bakri sudah berdiri di antara jama’ah tarawih di barisan pertama. Sungguh, hatinya sangat rindu untuk bisa sholat khusyu’. Rindu pula dia untuk sholat berjama’ah di awal waktu. Dari pengajian tadi dia faham bahwa dosanyalah yang menghalanginya selama ini. “Ya Allah, sungguh banyak dosa yang telah kuperbuat. Selama ini aku tidak menyadarinya. Kalau bukan karena rohmat-Mu aku tak akan mengetahuinya. Sebagaimana Engkau telah membukakan hatiku untuk menyadari dosa-dosaku, Ya Allah, bukakanlah hatiku untuk bersegera menuju maghfiroh-Mu dan menuju surga-Mu yang luasnya seluas langit dan bumi yang Engkau sediakan untuk orang-orang yang bertakwa. Amin”.

MUTIARA HIKMAH :
1. Manusia sering tidak menyadari dosanya yang banyak. Yang diketahuinya adalah dia tidak pernah sholat awal waktu, tidak berjamaah dan tidak pernah bisa khusyu’ dalam sholatnya. Dan banyak lagi ibadah mahdhoh yang tidak bisa dikerjakannya dengan baik, seperti tidak sholat sunnah, tidak bisa tadarus Al-Qur’an dan sebagainya
2. Ternyata lemah bahkan terhalangnya dia beribadah kepada Allah SWT adalah tanda-tanda akan dosanya yang banyak
3. Agar manusia mau dan mampu rajin beribadah dan merasakan ni’matnya ibadah, tidak ada jalan lain kecuali membersihkan diri dan dosa-dosanya.

Read More......

Renungan Hari Kesepuluh

ANAK SEBAGAI MOTIVASI UTAMA
KELUARGA SAKINAH MAWADDAH WA ROHMAH
~ Ust. H. Ir. Anom Wiratnoyo, MM. bin Sutardjo ~

Allah SWT berfirman :
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap mereka”

Rasulullah SAW bersabda :
“Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitroh. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya yahudi, nasroni atau majusi”

Keadaan seorang Ibu yang hamil sungguh luar biasa. Tiba-tiba semua ibu-ibu yang ditemuinya di jalan, di pasar, di tempat kerja, di mal dan di mana pun terlihat sedang hamil atau mendorong kereta bayi. Ini bukanlah hipnotis atau Ibu itu sakit mata. Tapi puncak kebahagiaan telah menyedot fokus perhatiannya kepada Ibu hamil yang tertangkap pandangan matanya. Sehingga Ibu yang tidak hamil terlewat dari perhatiannya. Seperti seorang remaja baru mendapat hadiah motor honda. Maka seolah seluruh motor di jalan adalah honda yang setipe dengan miliknya. Kegembiraan telah mengarahkan perhatian orang kepada obyek yang menjadikan kegembiraannya. Dan mengabaikan yang lain.
Kata pertama yang terucap oleh Ibu setiap berbicara dengan orang dekat, atau siapa pun, adalah soal bayi yang dikandungnya. Tak mau kalah teman yang bertemu dengan sangat antusias menanyakan keadaan si bayi, seolah berebut menarik perhatian si jabang bayi. Tak ketinggalan keempat kakek-neneknya berlomba menjadi juru bicara paling canggih bagi si makhluk mungil dalam rahim itu. Semua dengan bayangan yang sama seorang bayi mungil yang lucu, sehat, menggemaskan, menggugah semangat dan memberi harapan masa depan yang cerah.
Ayahnya pun demikian. Setiap telpon ke rumah yang ditanyakan adalah keadaan bayinya. Semangat kerjanya terpompa hampir sepuluh kali lipat. “Semua keringat yang menetes ini adalah untuk belahan jiwaku”, katanya. Jauh hari sebelum kelahiran musyawarah dilakukan untuk mempersiapkan perlengkapan bayi. Kalau bisa yang terbaik dan termahal yang mampu dibeli. Hari-hari diisi dengan menata ulang posisi furnitur di kamar utama. Mengatur posisi terbaik untuk tempat tidur bayi.
Seluruh kebahagiaan, antusias dan semangat yang dibalut cinta ini adalah rohmat Allah SWT. Rohmat yang menghapus penderitaan Ibu yang membawa beban 1,5 – 3 kg kemana pun dia pergi. Beban yang tidak bisa dilepasnya sedetikpun untuk disimpan sejenak di atas meja. Seperti tasnya yang hanya 0,6 kg diletakkan sejenak di meja untuk mengurangi sedikit rasa pegal ketika kondangan. Allah mengabadikan penderitaan ini dengan firman-Nya (QS 31:14), “Lemah yang bertambah-tambah”.
Rahim yang hanya sebesar telur bebek tiba-tiba membesar untuk dapat menampung bayi yang panjangnya 50 cm dan beratnya 3,0 kg. Makhluk yang tidak hanya berdiam diri di perut Ibunya. Bahkan malam hari ketika Ibu tertidur lelap pun terkadang bayi mungil ini menendang dinding rahim. Memaksa rahim untuk lentur dan kuat. Ibu yang terkejut terbangun seketika. Mulutnya langsung tersenyum. Tangannya mengusap perutnya yang buncit sambil berdo’a, “Nak, apa pun yang kau lakukan Ibu ridlo”.
Tibalah masa persalinan. Allah SWT mengabadikannya dengan firman-Nya (QS 46:15), “Susah payah”. Bayi dengan panjang 50 cm dan berat 3,0 kg itu harus keluar melalui lubang persalinan yang tak sebanding dengan ukurannya. Perjuangan Ibu melahirkan sering disebut sebagai perjuangan hidup dan mati. Sakit yang luar biasa. Energi harus dikuras dengan teknik nafas tertentu. Ketika bayi berhasil keluar lemas seluruh persendian. Luluh seluruh syaraf. Lemah terasa seluruh otot. Ruh seakan melayang entah kemana. Sejenak seakan berada di satu ruang kosong tak bertepi. Begitu bayi mungil disodorkan ke lengan kanannya yang masih tergeletak. Satu sentuhan menyentak syaraf lengan Ibu. Mengalir dengan kecepatan super ke seluruh tubuh. Memanggil kembali ruh yang sempat limbung. Menghidupkan kembali seluruh sel, jaringan dan syaraf. Kekuatan baru mendadak muncul. Berlipat ganda dibanding sebelumnya. Rohmat Allah SWT kembali memeluk Ibu yang berjuang penuh keikhlasan dan cinta.
Pengasuhan 1-2 tahun adalah masa yang sangat kritis. Karena bayi betul-betul dalam keadaan tidak berdaya. Sangat bergantung pada orang dewasa. Ayah dan Ibu sibuk mengurusnya siang dan malam. Terkadang kedua nenek ikut mengasuh dan menjaga. Bersenandung sambil mengajarkan kalimat “Laa ilaha illa-llah”.
Umur 2-5 tahun adalah masa pengasuhan yang sangat melelahkan. Anak mulai menjelajah. Bukan hanya wilayah bergeraknya yang makin meluas. Semua barang ingin dikenalnya dengan menyentuh atau menggigitnya, tanpa tahu sedikitpun bahayanya. Tapi masa balita ini pun dapat dilalui dengan baik. Tidak satu pun balita di dunia ini yang menjengkelkan. Semuanya lucu dan menggemaskan jika dipandang. Pandangan yang dipenuhi rohmat Allah SWT.
Memasuki usia sekolah adalah masa yang membutuhkan biaya sangat besar. Sering kali bukan hanya Ayah, Ibu pun ikut bekerja. Kondisi yang makin menjauhkan hubungan orang tua dan anak. Keadaan perlahan mulai berubah. Cinta dan kasih sayang yang telah terjalin hampir 6 tahun dari sejak kandungan. Cinta dan kasih sayang yang diselimuti rohmat Allah SWT. Mulai menghampiri titik baliknya. Ayah-Ibu yang sibuk dan lelah bekerja seakan belajar untuk mengumpat anaknya, “Nggak tahu Bapak capek. Kamu bisanya minta mainan melulu. Kapan kamu belajar”.
Sungguh tidak ada yang memungkiri lelahnya Ayah, dan juga Ibu, yang bekerja. Juga tidak ada yang menolak bahwa hasil bekerjanya itu adalah untuk anak. Untuk gizi, prestasi dan kesenangan anak lainnya. Tapi jika ada Ayah, apalagi Ibu, yang berkata atau bersikap kasar bahkan mengumpat kepada anaknya, sungguh bukan suatu cara yang diridloi oleh Allah SWT. Ayah dan Ibu tidak perlu bersikap kasar kepada anak, bagaimana pun keadaannya, dengan alasan capek yang langsung diucapkan maupun yang terselubung. Capek terselubung adalah ketika orang tua tidak menyadari kondisi lelahnya, langsung merespon kesalahan anak. Yang terjadi adalah pengendalian emosi yang sangat lemah. Kemarahan bisa meledak tanpa ujung pangkal. Jika hal ini sering diulang maka menjadi kebiasaan yang akan dibenarkan oleh orang tua itu sendiri. Karena hanya 1 per 1.000.000 orang tua yang mau mengakui kesalahannya dalam mendidik anak.
Pak Bakri menyadari betapa susah dan beratnya dia berusaha mengubah perilakunya terhadap Hasanah dan Nurul anaknya. Dua puluh tahun umur Hasanah dan 17 tahun Nurul, jarang sekali dia berkata manis pada mereka. Sifatnya yang emosional dan kekesalannya di sekolah ditumpahkannya di rumah. Istrinya yang semula tidak pernah berkata kasar, jadi terbawa virus emosi yang disebarkannya. Nuansa rumahnya adalah nuansa emosi. Dari bangun tidur sampai mau tidur. Hanya saat tidurlah saat yang bebas dari ucapan keras di rumah itu.
Sekarang bahkan untuk mengucapkan “sayang” kepada anaknya terasa kaku di lidahnya. Seakan kata itu adalah kosa kata bahasa asing yang baru dipelajarinya. Tetapi tekadnya sudah bulat dan mantap. “Aku harus berubah atau api neraka akan menyantapku”, begitu kalimat yang diucapkannya di sela do’anya. Terbayang suasana di akherat yang dengan dramatis dan berkesan disampaikan Ustadz Sobar dalam satu pengajian, “Diriwayatkan ada seorang hamba yang berjalan hendak masuk ke dalam surga. Malaikat mengiringinya dengan menebarkan bau yang harum. Ketika hamba ini sudah siap masuk ke surga, tiba-tiba terdengar suara yang keras, “Tahan! Dia ayahku aku adalah anaknya. Aku ada di neraka adalah gara-gara dia. Dulu, dia tidak pernah mengajarku ibadah dengan benar. Dia membiarkan aku tidak sholat. Dia membiarkan aku tidak puasa. Dia membiarkan aku berani melawan padanya dan pada ibuku. Dia membiarkan aku berzina. Sekarang aku akan menuntutnya”.

MUTIARA HIKMAH :
1. Orang tua telah mengorbankan segala sesuatu untuk mempersiapkan kelahiran bayi, mengasuh dan mendidiknya.
2. Seharusnyalah pengorbanan itu dituntaskan dengan pengasuhan yang penuh kasih sayang dan pendidikan yang mengakar pada aqidah, syariat dan akhlaq secara kuat.
3. Kesalahan orang tua dalam mendidik anaknya, besar maupun kecil, akan menjadi tuntutan di hari penuntutan

Read More......

Rizki Yang Halal Pupuk Penyubur Keluarga Sakinah Mawaddah wa Rohmah

Renungan Hari Kesembilan

RIZKI YANG HALAL PUPUK PENYUBUR
KELUARGA SAKINAH MAWADDAH WA ROHMAH
~ Ust. H. Ir. Anom Wiratnoyo, MM. bin Sutardjo ~

Allah SWT berfirman :
“Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan” (QS 78:11)
“Sesungguhnya Kami telah menempatkan kalian di muka bumi dan Kami jadikan bagi kalian di muka bumi itu sumber penghidupan. Amat sedikitlah kalian bersyukur” (QS 7:10)
“Maka bertebaranlah kalian di muka bumi dan carilah karunia Allah” (QS 62:10)
“Dan kewajiban ayahlah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf” (QS 2:233)

Rasulullah SAW bersabda :
“Barang siapa mencari dunia dengan halal, menjaga diri dari meminta-minta, berusaha untuk keluarganya dan belas kasih kepada tetangganya maka ia bertemu dengan Allah sedang wajahnya seperti bulan purnama”

Orang sekarang bilang, “Jangankan mencari yang halal mencari yang haram saja susah”. Sementara Allah SWT menyuruh makanlah dari yang halal, sebagaimana firman-Nya (QS 2:172), “Hai orang-orang yang beriman makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepada kalian”. Dan Rasulullah SAW bersabda, “Setiap daging yang tumbuh dari barang haram maka neraka itu lebih utama baginya”. Maka harus kita tancapkan sedalam-dalamnya dalam keyakinan kita bahwa pernyataan di atas adalah bisikan dan jebakan iblis la’natullah alaih. Karena Allah telah memerintahkan makanlah dari yang halal, tidak mungkin Allah mempersulit untuk mencari yang halal, dan mustahil yang halal itu tidak disediakan oleh Allah.
Tidak ada kata malas, lelah, istirahat sejenak atau bosan bagi iblis untuk menggoda manusia. Dia akan terus-menerus menggoda dengan berbagai cara. Dari depan, dari belakang, dari kanan atau kiri. Sebagaimana firman Allah SWT (QS 7:17), “Kemudian aku (iblis) akan mendatangi mereka (manusia) dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan dari mereka bersyukur”. Dari depan iblis akan datang dalam wujud dirinya sendiri. Jika gagal mereka akan datang dari belakang, dalam wujud godaan kemewahan dunia dan rizki di dalamnya. Jika gagal lagi mereka akan datang dari kanan, dalam wujud godaan manusia. Jika gagal juga mereka akan datang dari kiri, dalam wujud godaan nafsu.
Sudah kehendak Allah bahwa iblis menjadi panglima perang musuh manusia. Sifatnya yang sombong serta iri dan dengki kepada manusia mendorongnya untuk terus menghilangkan iman di dada manusia. Sebagian motivasi iblis menyesatkan manusia adalah janji Allah SWT bahwa manusia akan dijadikan bahan bakar neraka, sebagaimana firman-Nya (QS 66:6), “... api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu”. Setiap iblis dan keturunannya berhasil menggoda manusia, maka manusia itu akan menjadi bantalannya dalam bentuk bahan bakar api neraka. Setiap mendapat tambahan satu manusia, maka naiklah kedudukan iblis di neraka. Demikian seterusnya. Betapa bersemangatnya iblis untuk naik kedudukannya di neraka dengan menggoda manusia. Maka bagaimana mungkin manusia tidak bersemangat untuk meningkatkan derajatnya di surga dengan ibadah?
Masalah rizki adalah salah satu senjata ampuh iblis untuk menggoda manusia. Seorang yang miskin. Mengeluh setiap hari. Bahkan tidak sedetik pun dia bersyukur kepada Allah. Setiap ada orang yang bertanya padanya, siapa pun, dengan fasih keluar keluhan, “Yah, keadaan memang begini. Boro-boro mau ibadah. Untuk hidup sehari-hari saja susah”. Keluhan yang sering kali kita pun mengiyakan dan mentoleransinya.
Sementara seorang pegawai swasta yang berpenghasilan Rp 10.000.000,- sebulan. Setiap hari mengeluh, “Yah, bagaimana lagi. Saya harus mengejar target perusahaan. Saya harus sholat subuh di jalan dan sampai di rumah setelah waktu isya”. Sholat subuhnya sendiri saja di jalan. Begitu pula dzuhur, ashar, maghrib dan isyanya tak sekali pun berjama’ah. Bahkan tidak pernah ada yang diawal waktu. Dapat kita bayangkan bagaimana sibuk, lahir dan batinnya, pegawai eksekutif yang gajinya di atas Rp 10.000.000,- bahkan ratusan juta sebulan. Kapan mereka sholat berjama’ah, sholat sunnah, tadarus Al-Qur’an atau do’a dan wiridnya?
Dua kisah di atas adalah contoh godaan rizki yang ditiupkan oleh iblis. Sehingga mereka meninggalkan ibadah. Dan cukuplah haramnya pekerjaan itu jika meninggalkan ibadah karenanya. Kisah di atas menunjukkan pula bahwa meninggalkan ibadah itu bukan karena kecil atau besarnya pekerjaan dan penghasilan. Tetapi betul-betul kembali pada pribadi dan perilaku orangnya. Jika kita perhatikan dengan cermat sekeliling kita, ada orang miskin papa yang ibadah ada juga yang tidak. Ada orang kaya luar biasa yang rajin ibadah ada pula yang meninggalkannya. Sementara si miskin berangan-angan, “Aduh kalaulah aku kaya aku akan ibadah”. Dan yang kaya raya pun berangan-angan, “Nanti kalau aku senggang atau pensiun aku akan ibadah”.
Ada kisah seorang yang rajin ibadah dan sukses usahanya. Pekerjaanya dimulai dengan menyuplai alat tulis kantor ke pemerintah kota. Karena dipercaya berkembanglah usahanya bukan hanya menyuplai ATK saja tapi hampir seluruh kebutuhan pemerintah kota. Dalam satu pengajian dia mendengar penjelasan tentang masalah suap, bahwa yang menyuap dan yang disuap kedua-duanya di neraka. Rupanya pengusaha ini tidak dapat menghindar dari masalah suap dalam usahanya. Terjadilah pergolakan hebat di hatinya. Akhirnya dia memutuskan untuk berhenti dari usahanya sama sekali.
Sementara itu di rumah, istrinya berjualan rujak dan gado-gado kecil-kecilan. Niatnya ingin menunjukkan kepada tiga anak perempuannya untuk hidup mandiri. Bapak pengusaha kita menganggur di rumah hampir setahun. Tiba-tiba terbersit di pikirannya, “Mengapa tidak aku kembangkan usaha istriku saja. Allah pasti menolong hambanya yang berikhtiar mencari usaha yang halal”. Maka dengan sisa tabungannya dirombaklah rumahnya untuk mengembangkan usaha istrinya. Singkat cerita sekarang usahanya sudah maju. Bukan hanya rujak dan gado-gado lagi, tetapi rumah makan yang cukup besar. Dia pun telah membeli tanah di sebelahnya. Sebagian untuk toko yang disewakan dan sebagian untuk usaha barber-shop.
Masih banyak lagi kisah nyata orang yang berikhtiar mencari usaha yang halal. Ternyata Allah SWT membukakan jalannya, menolong dan mengabulkannya. Allah SWT berfirman (QS 65:24-25), “Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah pasti Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada terduga-duga”.
Pak Bakri telah bertekad bulat. Dia harus menjadi pemimpin keluarga menuju sakinah, mawaddah wa rohmah. Pertama dia akan fokus pada makna sakinah, yaitu ketenangan dan ketentraman. “Bagaimana mungkin kalau aku masih emosional dan suka bentak-bentak keluargaku akan tenang dan tentram”, pikirnya. “Jadi aku akan mengubah perilakuku yang emosional dan suka bentak-bentak menjadi tenang, sabar, menahan diri dan berkata manis di rumah dan di sekolah”, pikirnya lagi mantap.
“Masih ada lagi! Tadi adalah ketenangan dan ketentraman batin. Bagaimana dengan fisiknya?”, Pak Bakri terus merenung semakin dalam. Malam ini adalah sujudnya yang ke sembilan di bulan Romadlon. Sajadahnya tampak makin cerah. “Ah, aku akan mulai dari apa yang aku bisa. Aku berjanji pada diriku sendiri ‘aku tidak akan pernah mengeluhkan gajiku lagi kepada siapa pun selain kepada Allah SWT’”, senyum keridloan menghias bibir Pak Bakri. Tiba-tiba terlintas sepetak tanah miliknya di kampung. “Mengapa tidak aku jual dan dijadikan modal usaha. Dengan begitu istriku dan Hasanah akan punya kesibukan yang positif dan percaya diri”. Selama ini Pak Bakri tidak percaya diri untuk usaha. Malam ini ada kekuatan yang tiba-tiba muncul. Entah dari mana. Diingatnya hadits yang disampaikan Ustadz Sobar di pangajian, “Barang siapa mencari dunia dengan halal, menjaga diri dari meminta-minta, berusaha untuk keluarganya dan belas kasih kepada tetangganya maka ia bertemu dengan Allah sedang wajahnya seperti bulan purnama”.

MUTIARA HIKMAH :
1. Sesungguhnya kesulitan masalah rizki yang menghantui manusia adalah tiupan iblis untuk menyimpangkan aqidah manusia.
2. Rizki sudah ditetapkan oleh Allah SWT. (QS 13:26; 17:30; 28:82; 29:62; 30:37; 34:36,39; 39:52; 42:12)
3. Usaha tanpa taqwa atau taqwa tanpa usaha adalah miskin. Usaha dengan landasan taqwa itulah kaya sejati

Read More......

Akhlaqul Karimah adalah Air Kehidupan Keluarga Sakinah Mawaddah wa Rohmah

Renungan Hari Kedelapan

AKHLAQUL-KARIMAH ADALAH AIR KEHIDUPAN
KELUARGA SAKINAH MAWADDAH WA ROHMAH
~ Ust. H. Ir. Anom Wiratnoyo, MM. bin Sutardjo ~

Allah SWT berfirman (QS 6:12) :
“Dia telah menetapkan atas diri-Nya Ar-Rohmah”
Allah SWT berfirman (QS 6:54) :
“Tuhan kalian telah menetapkan atas diri-Nya Ar-Rohmah”
Allah SWT berfirman (QS 21:107) :
“Dan tiadalah Kami mengutus engkau melainkan untuk menjadi rohmat bagi semesta alam”
Allah SWT berfirman (QS 68:4) :
“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berakhlaq yang agung”

Rasulullah SAW bersabda :
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq mulia”
Rasulullah SAW bersabda :
“Kebanyakan manusia yang masuk ke dalam surga adalah yang bertaqwa dan berakhlaq yang baik”

Pada renungan kita sebelumnya telah dijelaskan bahwa makna rohmat Allah SWT adalah segala sesuatu kebaikan yang membuka jalan bagi manusia untuk ma’rifat kepada Allah SWT. Baik ma’rifat kepada Zat Allah SWT, ma’rifat kepada Sifat Allah SWT dan ma’rifat kepada af’al (perbuatan) Allah SWT. Termasuk di dalamnya ma’rifat kepada ilmu dan amal beribadah kepada Allah SWT. Jika bukan karena rohmat Allah SWT kita tidak akan mengerti bahwa harus beribadah, tidak mau untuk beribadah, dan tidak mampu melaksanakan ibadah kepada Allah SWT.
Bentuk rohmat Allah SWT adalah meliputi segala sesuatu, sebagaimana firman Allah SWT (QS 7:156), “Dan rohmat-Ku meliputi segala sesuatu”. Seluruh yang di dalam diri manusia dan yang di luarnya. Seluruh benda mati sampai makhluk hidup. Seluruh yang di tanah, di air, di udara dan di langit. Seluruh ilmu pengetahuan, teknologi dan hasil serta perkembangannya. Seluruh perilaku manusia individual dan sosial maupun lokal dan global. Seluruh pencapaian manusia secara materi, fikiran, mental dan spiritual. Semua adalah wujud Rohmat Allah SWT di dunia.
Untuk menyempurnakan rohmat-Nya dan agar manusia dapat memandang dan merasakan dengan lebih jelas kepada rohmat-Nya itu Allah mengutus Nur-Nya. Nur itu adalah Rasulullah SAW, sebagaimana firman-Nya (QS 5:15), “Sesungguhnya telah datang kepadamu Cahaya dari Allah dan Kitab yang menerangkan”. Bahkan Allah SWT mewakilkan sifat rohmat-Nya pada Rasulullah SAW, sebagaimana firman-Nya (QS 21:107) , “Dan tiadalah Kami mengutus engkau melainkan untuk menjadi rohmat bagi semesta alam”. Untuk tugas sebagai cahaya rohmat, bahkan sebagai rohmat itu sendiri bagi semesta alam, Allah SWT menganugerahkan kepada Rasulullah SAW sifat akhlaq yang agung, sebagaimana firman-Nya (QS 68:4), “Dan sesungguhnya engkau benar-benar berakhlaq yang agung”.
Rasulullah SAW adalah rohmat bagi seluruh makhluk. Baik manusia maupun jin. Orang mukmin maupun kafir. Perempuan maupun laki-laki. Manusia, hewan, tumbuhan maupun benda mati. Dan Rasulullah SAW mendahulukan sifat rohmat itu bagi dirinya sendiri sebelum kepada orang lain, sehingga beliau SAW memiliki perilaku akhlaq yang agung. Dalam hadits yang diriwayatkan Sayyidina Abu Hurairah ra dikatakan, “Orang-orang berkata :’Wahai Rasulullah berdo’alah agar orang-orang musyrik ditimpa azab’. Rasulullah menjawab :’Aku diutus bukan untuk mengutuk melainkan sebagai rohmat”.
Rasulullah SAW adalah orang yang paling sabar, paling zuhud dan paling dermawan. Beliau tidak pernah membentak perempuan dan anak-anak. Juga tidak kepada orang miskin dan peminta-minta. Beliau tidak pernah menolak orang yang akan menemuinya dan tidak pernah menolak permintaannya selama tidak menyalahi syariat dan tidak memutuskan tali silaturahim. Beliau tidak pernah mencela makanan. Jika ada makanan beliau makan, jika tidak beliau puasa. Tidak pernah pula mencela tempat tidurnya, jika tidak ada beliau tidur di tanah. Cukuplah kita ambil hadits dari Siti Aisyah untuk menggambarkan akhlaq Rasulullah SAW. “Akhlaq Rasulullah SAW adalah Al-Qur’an”.
Mengapa Rasulullah amat sangat mendahulukan akhlaq dalam dakwah dan menegakkan risalah-Nya. Karena akhlaq adalah pintu masuk penerimaan, penyerahan diri dan keridloan. Jika Rasulullah SAW mendahulukan isi dakwah, semisal iman kepada Allah, tanpa mengedepankan akhlaq, pasti tak seorangpun dari Quraisy Makkah yang mau menerima ajakannya itu. Walaupun keadaan iman itu adalah benar dan dapat dibuktikan kebenarannya, pintu hati orang telah tertutup untuk menerimanya karena akhlaq tidak menyentuh ke dalam hatinya.
Jika Rasulullah SAW adalah rohmat bagi semesta alam, maka seorang ayah adalah rohmat bagi keluarganya. Rasulullah SAW mengajak manusia beriman kepada Allah ta’ala, Ayah pun mengajak keluarganya untuk beriman kepada Allah ta’ala. Rasulullah SAW mengajak manusia untuk melaksanakan syariat Islam, Ayah mengajak keluarganya untuk melaksanakan syariat Islam. Rasulullah SAW mengajak manusia melaksanakan kebaikan, Ayah mengajak keluarganya melaksanakan kebaikan. Rasulullah SAW melarang manusia untuk berbuat dzolim, Ayah melarang keluarganya berbuat dzolim. Rasulullah SAW melarang manusia berbuat ma’siyat, Ayah melarang keluarganya berbuat ma’siyat. Rasulullah SAW mencegah manusia dari siksa api neraka, demikian pula Ayah mencegah keluarganya dari siksa api neraka.
Bila untuk melaksanakan tugas kerasulannya itu Muhammad Rasulullah SAW, manusia paling mulia dan kekasih Allah SWT, diwajibkan untuk memiliki akhlaq yang agung, bagaimana mungkin seorang ayah akan melaksanakan tugas kepemimpinannya di keluarga tanpa akhlaq mulia? Akhlaq mulia adalah air kehidupan bagi keluarga bagaikan air menghidupkan tanaman. Air akan menjadikan bibit, pupuk dan obat berfungsi dengan baik dan maksimal bagi pertumbuhan tanaman. Begitu pula akhlaq karimah akan mengalirkan perilaku yang baik, pemikiran yang cerdas dan ibadah yang kuat pada seluruh anggota keluarga.
Hari ke-8 Romadlon Pak Bakri bangun pukul 03.30. Sebelum tidur telah disiapkannya peci, baju koko, pakaian dalam dan sarung yang akan dipakainya sholat subuh ke masjid. Handuk sudah tergantung di kamar mandi. Untuk masuk ke kamar mandi dia harus melewati dapur. Ruang 2,5x3 m2 di sebelah ruang tengah itu ditembok lagi 1,5x1m2 untuk kamar mandi. Sisanya adalah dapur.
Dilihatnya istrinya sudah siap menghidangkan santapan sahur. Hasanah seperti biasa ikut membantunya. Nurul masih belum bangun. Kedua anaknya ini bukanlah anak yang berprestasi di sekolah. Hasanah lulusan SMK swasta. Setelah lulus dia sempat mengambil kursus komputer. Tapi karena motivasinya kurang dan masalah biaya, kursus tak dapat diselesaikannya. Nurul masih kelas dua SMA swasta. Tentu karena tidak diterima di SMA negri. Sebenarnya Pak Bakri adalah guru SMA negri di kotanya. Dia bisa memasukkan Nurul di sekolahnya. Tapi karena tahu kemampuan anaknya, dia malu untuk memaksakan anaknya.
Pak Bakri merenung. Terbayang lagi peristiwa ketika anaknya masih kecil. Sering sekali dia memukul dan mencubit anaknya. Terutama Hasanah. Sampai masih ada tanda biru di tengah pahanya sebelah kiri. Setiap kali Hasanah tidak mau belajar dia akan membentaknya. Kalau anaknya menangis dia tidak tahan lagi dan akan memukul pahanya atau mencubitnya sambil diputar. “Kamu ini anak guru harus pintar dan juara kelas”, begitu kata-kata bentakan yang sering keluar dari mulutnya. Sampai kelas satu SMP dia masih suka memukul atau mencubit Hasanah. Setelah itu dia menghentikan pukulan dan cubitan tapi bentakan dan kata-kata kasar masih sering diucapkannya. Pak Bakri menghela nafas panjang berkali-kali. “Ya Allah, bagaimana mungkin perilakuku yang seperti itu dapat mengantarkan harapan dan cita-citaku agar anak-anakku menjadi anak yang pandai, mandiri dan thoat kepada-Mu”, keluhnya. Ketakutan dan mungkin juga kebencian telah mendahului pandangan Hasanah dan Nurul terhadap ayah mereka, karena perilakunya yang jauh dari akhlaq karimah. Bagaimana mungkin mereka mampu menerima nasehat ayah mereka untuk ibadah dan belajar dengan baik. Hatinya hampir tertutup untuk menerima, memasrahkan diri dan ridlo kepada Ayahnya.

MUTIARA HIKMAH :
1. Allah SAW berkehendak mengaruniai akhlaq yang agung kepada Rasulullah SAW untuk mengemban tugas sebagai rohmatan lil-alamin
2. Akhlaq Rasulullah SAW adalah kunci keberhasilan dakwah beliau
3. Seorang Ayah adalah rohmat bagi keluarganya. Agar berhasil menjalankan tugas kunci keberhasilannya adalah akhlaq karimah

Read More......